LOADING

Type to search

Wisata

Gunung Lawu

administrasi April 13, 2018
Share

BeritaMagetan – Jalur pendakian Gunung Lawu dapat ditempuh dengan 2 jalur alternatif yaitu melalui Gerbang Cemoro Sewu (dikelola oleh KBM JLPL Unit II Jawa Timur) dan Cemoro Kandang (dikelola oleh KBM JLPL Unit I Jawa Tengah), berjarak sekitar ± 1 km.

Perjalanan menuju puncak Gunung Lawu diawali dari pintu gerbang Cemoro Sewu dengan menelusuri jalan setapak berbatu yang sudah tertata rapi, di bawah teduhnya pohon cemara yang rindang. Lebatnya hutan cemara yang tumbuh di kanan-kiri jalur pendakian setelah melewati gerbang pendakian sehingga daerah ini dinamai Cemoro Sewu ( Seribu Cemara ).

Jenis tegakan cemara yang mendominasi yaitu cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan cemara laut (Casuarina equisetifolia). Fasilitas yang terdapat di sekitar pintu gerbang Cemoro Sewu diantaranya yaitu tempat parkir, toilet dan Pos Istirahat yang dibangun oleh Pemda setempat.

Sepanjang perjalanan menuju puncak lawu telah tersedia pos-pos istirahat yang ditempatkan di sepanjang jalur pendakian mulai dari pos I – pos 5 yang merupakan tempat istirahat bagi para pendaki. Jarak antar pos istirahat antara 150 – 1400 m dengan ketinggian antara 2.214 – 3.115 mdpl.

Untuk menuju Puncak Lawu (Hargo Dumilah) pendaki menempuh perjalanan sejauh 6.800 m dengan ketinggian 3.265 mdpl, sangat cocok bagi wisatawan yang gemar dengan tantangan dan petualangan.

Cemoro Sewu

gerbang-cemoro-sewu

Gerbang Pintu Masuk Cemoro Sewu-

Lokasi Wana Wisata Cemoro Sewu secara administratif berada di desa Ngancar Kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan terletak pada petak 73/2 RPH Sarangan, BKPH Lawu Selatan, KPH Lawu DS.

Cemoro sewu berada pada ketinggian 1.820 mdpl, merupakan pintu gerbang pendakian menuju Gunung Lawu dari jalur Jawa Timur yang biasa digunakan oleh wisatawan yang akan “muncak”.

Lokasi pintu gerbang pendakian tersebut berada pada jalur jalan provinsi antara Magetan-Solo melalui Tawang mangu. Keberadaan lokasi Cemoro Sewu sangat strategis dandapat dicapai baik dari arah Magetan maupun arah Solo dengan mudah dengan jarak22 km dari Plaosan atau 42 km dari kota Magetan kearah Solo.

Apalagi proyek pembangunan jalan provinsi (jalan tembus) sudah selesai sehingga menjadikan aksesibilitas untuk sampai ke lokasi obyek wisata ini menjadi mudah.

Tempat Ziarah

Sejak jaman Prabu Brawijaya V, raja Majapahit pada abad ke 15 hingga kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu.

Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan Suro, para kerabat Keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di puncak Gunung Lawu.

Legenda Gunung Lawu

eidelweis-gunung-lawu

Hamparan Eidelweis Gunung Lawu

Raja Majapahit terakir Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping V memiliki salah seorang istri yang berasal dari negeri Tiongkok bernama Putri Cempo dan memiliki putera Raden Patah.

Bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan Islam di Glagah Wangi (Demak). Prabu Brawijaya bersemedi dan memperoleh wisik yang pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan lagi.

Prabu Brawijaya dengan hanya disertai abdinya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton naik ke Gunung Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala.

Sebagai abdi dalem yang setia mukti dan mati mereka tetap bersama Raja. Sampailah Prabu Brawijaya bersama 3 orang abdi di puncak Hargodalem. Saat itu Prabu Brawijaya sebelum muksa bertitah kepada ke tiga abdinya.

Dan mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu.

Dan mengangkat Wangsa Menggala menjadi patihnya, dengan gelar Kyai Jalak. Prabu Brawijaya muksa di Hargo Dalem , sedangkan Sabdo palon muksa di puncak Harga Dumiling.

Karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya Sunan Lawu dan Kyai Jalak kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Tags:
Previous Article

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *